Tampilkan postingan dengan label renungan harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan harian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Agustus 2011

TOMORROW IS TOO LATE


Mat 24:42-51

Don’t you know, where does the Satan live now? No cemeteries had been the home of Satan anymore, nor the wall street or highest trees. Because cemeteries are full of light now and all the wall streets have their own people. Nobody is afraid to be alone under the trees because they found something that really fresh more than anything that scared. So, where the satans are?

They were in your watch? They ask you not to do anything good that you want to do now but until. Because they influence your hearth with the statement that you still have time. Don’t do it now? God is so kind with you. So, you always still have time to back to Him, if the time came. This is the new way of Satan method to take you from being deep with God. He knew your week and try to catch you when you lost your concentration.

Today Jesus ask you to be careful with time. Jesus told you to keep watch and have a ready hearth to do every thing that you think it is good now. Don’t keep it till tomorrow or next time. Because if you don’t do it now you will be sorry. Those will pass away and you got nothing.

Lets with Jesus we always keep fight with Satan by saying “Tomorrow is too late”. So, I want to do it now. It is the time that God really want to do every good things. It is Theological word said Kairos: time to be saved. And time to ask somebody to be saved like you and me.

Selasa, 26 Juli 2011

RELIGIOSITAS


Seorang siswa SMP pernah mengajukan sebuah pertanyaan kepadaku saat pelajaran agama. “Pak, sebenarnya apa yang menjadi garansi seseorang dapat masuk surga? Agamanya atau imannya?” saya kenal betul siswa ini. Dia belum memeluk satu agama pun karena orang tuanya berpikir agama merupakan urusan pribadi. Dia bisa menentukan sendiri agamanya bila sudah mantap untuk memilih agama mana yang akan dianutnya.

Karena itu saya tidak ingin memberi jawaban spontan yang terlalu dangkal. Bila saya memberi jawaban iman, sebagaimana mestinya dijawab begitu, maka ia akan semakin sumringah karena dengan begitu orang tidak harus beragama. Yang berarti sama dengan mengukuhkan pendiriannya saat ini. Agama hanya membuat orang terkotak-kotak karena masing-masing agama cendrung menonjolkan perbedaannya daripada kesamaannya. Karena itu baginya beriman saja sudah cukup.

Sedangkan bila saya memberi pilihan jawaban pada agama. Maka ia malah akan semakin ngakak terbahak-bahak. Karena dia punya bukti-bukti otentik yang dapat memperlihatkan secara gamblang rentetan orang-orang beragama yang sangat mungkin tidak dapat masuk surga karena mereka secara sadar melakukan perbuatan-perbuatan yang justru dilarang oleh agama mereka sendiri. Ambil sebagai contoh, pembunuhan , korupsi, manipulasi/penipuan, aborsi, saling menghujat, saling membenci, iri hati, dendam dan lain sebagainnya.

Akhirnya saya mulia menjawab dengan memberikan anologi ini. Hidup ibarat ziarah panjang menuju satu titik akhir. Iman adalah keyakinan dasar manusia bahwa titik akhir itu adalah kembali pada Sang Khalik, Penciptanya. Agama ibarat jalan yang dapat menghantar orang pada tujuan akhir itu. Bagaimana mungkin orang dapat sampai pada tujuan kalau tidak melewati sebuah jalan? Agama karenanya, dapat dilihat sebagai condition sine qua non untuk mencapai sang pencipta.

Senin, 25 April 2011

di HARI JUMAT AGUNG


Sejarah hidup manusia selalu merupakan sejarah kemenangan. Sejarah yang memihak orang-orang yang menang. Semua orang selalu berpacu untuk merebut kemenangan. Walaupun untuk itu ia harus melenyapkan orang lain. Ia harus menyingkirkan orang lain. Ia harus menyingkirkan orang lain bahkan Ia harus membunuh orang lain. Semua orang ingin menunjukan bahwa Ia lebih berkuasa dari orang lain. konsenkuesinya adalah bahwa sebuah sejarah kemenangan selalu meninggalkan korba n. Orang-orang yang menderita kekalahan karena mereka tidak berdaya melawan orang yang lebih kuat. Mereka yang menjadi korban peperangan. Orang-orang yang harus menderita karena harta miliknya yang paling berharga dirampas oleh orang lain secara paksa. Mereka seperti para korban ketidakadilan, korban pemfitnaan atau korban-korban lainnya. Apakah korban-korban ini masih memiliki tempat dalam sejarah dunia yang mengagungkan kemenangan? Apakah ada orang yang masih peduli dengan para korban?

Hari ini umat Kristen seluruh dunia berkumpul di tempat masing-masing untuk mengenangkan peristiwa tragis; tragedi salib di puncak Golgota. Mari kita sejenak bermenung diri dengan peristiwa salib di Golgota itu. Bayangkanlah manusia salib yang tergantung di puncak Golgota. Kedua tangannya terentang antara langit dan bumi, melekat erat pada salib oleh paku yang menembusinya. Akibat posisi badan menggantung, praktis seluruh berat badan bertumpuh pada kedua tangan itu. Bisa dibayangkan, setelah dilukai, tangan yang selalu memberkati dan memberi itu, kini meringis kesakitan, menahan gesekan paku dan nyeri di urat syaraf. Tubuhnya yang suci penuh berlumur darah. Luka-luka bekas cambukan kembali mengeluarkan darah karena terpanggang terik mentari. Kedua kakinya disatukan dan ditembusi paku. Kemudian dari mulutnya keluar keluhan; "eli, eli, lama sabaktani!' Allahku ya Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku?" inilah tindakan seorang Putra yang merasa telah ditinggalkan BapaNya, justru pada saat ia sangat membutuhkan kehadiran BapaNya.

Ya Putra Allah telah disalibkan. Allah yang mahakuasa kini telah menderita. Hanya Allah yang menderita adalah Allah yang dapat dipercaya. Karena ia sungguh-sungguh menunjukkan cintaNya kepada mereka yang dicintanya. Senja di Golgota menjadi begitu penting dalam sejarah umat manusia karena dalam keilahianNya yang menderita, Allah melepaskan atribut, sebutan-sebutan tradisionalNya, dan minum sampai tegukkan terakhir, keputusasaan yang menyayat hati dan penderitaan kematian yang mendalam sekali. Kita lantas bertanya; mengapa Yesus harus menderita begitu hebat sampai mati di salib? Mengapa Putra Allah harus menjadi korban untuk menebus dosa-dosa kita?

Yesus menjadi korban karena cintaNya kepada BapaNya. Karena Yesus adalah korban cinta. Cinta menghendaki agar orang yang dicinta memperoleh kebahagiaan. Karena itu cinta selalu menuntut kesediaan untuk berkorban. Yesus Putra Allah mengalami penderitaan ini bukan karena suatu paksaan dari luar, juga bukan karena Ia tahluk dibawa kekuasaan dunia ini. Namun semata karena Ia taat kepada kehendak BapaNya dan rasa solidaritasnya yang tinggi kepada manusia yang dicintaiNya. Ia rela mengalami pedihnya rasa sakit dan gelapnya kematian.

Namun kita semua tahu bahwa penderitaan dan kematian di salib bukanlah akhir dari segalanya. Kita yakin dan percaya bahwa Yesus akhirnya bangkit mengalahkan kematian. Dari perspektif salib, kebangkitan Yesus harus dibicarakan dari latar salib. Kebangkitan adalah sebuah peristiwa yang sekaligus mau memperkenalkan siapa yang mati di salib. Peristiwa Kebangkitan Yesus mau hendak menyatakan kepada dunia siapa sesungguhnya yang telah mati si salib itu. Dia adalah sungguh Putra Allah. Karena hanya Allah yang dapat mengalahkan maut. Jadi melalui kebangkitanNya, Kristus menjadi antisipasi dari Allah yang akan datang, Allah yang mampu mengalahkan maut dan kematian. Dan melalui kematianNya di salib, Kristus menjadi Allah untuk kita sekarang. Allah di tengah dunia yang mematikan. Inilah makna salib bagi kita; salib adalah tanda solidaritas Kristus dengan kita. Allah yang tersalib, Allah yang tak berdaya dan menderita itu adalah Allah yang tahu betul akan penderitaan manusia, terlebih yang sering menjadi korban, dan Ia mau merasakan dan mengalami sendiri penderitaan para korban itu dengan penderitaanNya sendiri. Inilah Allah yang sungguh-sungguh berpihak pada kita. Setiap orang yang memandang salib akhirnya menyadari bahwa Kerajaan Allah yang dijanjikan Yesus memang belum secara sempurnah terwujud di dunia ini, tetapi ia tetap yakin akan memperoleh kebahagiaan kekal itu karena Yesus, yang telah bangkit, adalah jaminannya.

Di tengah dunia yang meningglkan para korban terkapar sendiri, salib menunjukan kepada kita bahwa Allah yang tersalib selalu hadir juga dalam penderitaan mereka. Marilah kita lebih jauh merenungkan perjalanan hidup kita sendiri. Apakah mungkin para korban itu salah satunya adalah kita sendiri? Sekian sering kita mungkin merasa bahwa kita telah dikianati oleh orang lain. Perjuangann hidup kita di dunia inipun sering memberitahukan kepada kita bahwa lebih banyak penderitaan kegagalan yang kita alami ketimbang kehagiaan kemenangan. Atau sekian sering kita merasa terabaikan, tak dipedulikan, tidak dianggap, sendiri, merana dan ditinggal begitu saja.

Dengan memandang salib, kita kembali diyakinkan bahwa kita tidak menderita sendirian. Yesus tetap meyertai kita karena ia sendiripun pernah mengalami betapa pedihnya penderitaan itu. Dengan membuat tanda salib kitapun percaya bahwa di dalam salib masih ada harapan akan kehidupan yang bahagia setelah salib. Harapan itu harus tetap kita hidupkan karena terus berharap kita bisa menang atas penderitaan di dunia ini. Marilah kita hidup dengan tanda salib sebagai kekuatan kita.

Kamis, 31 Maret 2011

MEA CULPA


Saya masih sangat mengingat kebiasaan baik yang selalu diteruskan dalam kehidupan bersama di seminari. Jika ada seorang penghuni asrama yang melakukan kesalahan atau pelanggaran terhadap aturan maupun keputusan bersama, apalagi kalau kesalahan atau pelanggaran itu sampai merugikan kepentingan umum sehingga dapat merusak tatanan bonum commune yang telah ada, maka orang itu harus meminta maaf secara publik. Tradisi ini disebut "capitulum culpae". Pelaku pelanggaran tadi secara sadar, tahu dan mau, harus berdiri di depan umum, misalnya dalam kesempatan makan bersama atau ibadat bersama, dan dihadapan saudara-saudaranya, mengakui dan menyatakan sesalnya atas pelanggaran atau kesalahan yang telah dibuatnya.

Jenis kesalahan bisa beragam. Mulai dari kesalahan-kesalahan kecil, seperti memecahkan gelas saat spullen, lupa mematikan kran kamar mandi, sampai pada kesalahan-kesalahan besar, seperti bolos dari sekolah, ketiduran sehingga tidak bisa mengikuti ibadat pagi, dan lain sebagainya.

Tentunya ada hal penting dan mendasar yang ingin ditanamkan melalui tradisi ini, yakni keadaran tiap pribadi untuk menghargai aturan dan pentingnya menjaga kelangsungan bonum commune. Tetapi juga bagi penghuni yang lain, yang mendengarkan pengakuan itu, dibiasakan untuk selalu dapat memberi pengampunan dan maaf yang tulus. Ungkapan sikap pemberian maaf yang tulus ini, sekaligus dapat memberi efek jerah yang lebih membekas pada si pelaku. Sebab si pelaku merasa ia tidak dihukum secara berlebihan, tetapi dia walaupun telah bersalah tetap menjadi bagian dari komunitasnya karena ia diterima lagi. Tentunya sanksi sesuai berat ringannya pelanggaran tetap harus ditanggung oleh si pelaku pelanggaran, tetapi semangat untuk menjalankan sanksi itu tidak lagi didasarkan atas unsur paksaan. Namun sekarang adalah semangat yang dilandasi ketulusan hati untuk mau berubah dan tidak akan mengulang kesalahan yang sama.

"Mea culpa, mea culpa, mea maxsima culpa!" Bila seseorang telah sungguh-sungguh mengakui kesalahannya dan berniat tulus untuk berubah, maka setiap kita punya kewajiban moral untuk mendukung niat baik ini. Dalam Matius 18:22, Yesus berkata : "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali." Inilah yang diharapkan Yesus dari setiap pengikutnya; Hati yang tidak pernah lelah untuk memberi maaf. Tangan yang tidak pernah capek untuk menyambut uluran permintaan maaf saudara kita. Memang tidak mudah memaafkan apalagi memaafkan orang yang telah begitu menyakitkan hati. Walaupun begitu bukankah akan lebih menyakitkan hati bila berlama-lama menyimpan dendam, karena akan menyesakkan dada, membuat sulit bernapas, tertekan, dan akhirnya sakit. Bila sudah begini siapa yang dirugikan?

Kamis, 17 Maret 2011

DISIPULUS


Mat 7:7-12

"Tuhan, ajarlah kami berdoa," (Luk 11:1). Inilah permintaan tulus seorang murid yang sadar bahwa dirinya bukanlah apa-apa. Ia sadar bahwa kewajibannya semata-mata adalah belajar. Seluruh perjalanan seorang murid taklain, tak bukan adalah suatu perjalanan untuk selalu belajar. Belajar mengisyaratkan keberadaan diri yang tak tahu apa-apa atau belum cukup memiliki sesuatu yang bisa diandalkan untuk diberi kepada orang lain. Kecuali ketekadan untuk belajar itu sendiri. Si murid merasa diri seperti bejana kosong yang selalu minta untuk diisi.

Sang murid meminta kepada Gurunya untuk mengajari mereka berdoa. Berdoa adalah usaha untuk tetap berada dekat dengan Tuhan. Meskipun kita sendiri tahu bahwa Tuhan tidak pernah jauh dari kita, berdoa tetap merupakan salah satu sarana yang mampu menyadarkan kita akan kedekatan Tuhan dengan kita ini. Dengan berdoa murid merasa hidupnya lebih aman karena ia sadar bahwa ia berada dekat dengan Tuhannya.

"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Mat 7:7). Yesus, sang Guru, kembali menegaskan kepada para muridNya untuk tidak pernah berhenti berdoa. Penegasan Yesus ini menunjukkan bahwa sikap sejati seorang murid adalah meminta bukan menuntut. Meminta berarti memohon dengan penuh pengharapan bahwa permintaannya dapat terkabulkan. Jadi tugas utamanya hanyalah meminta, persoalan dikabulkan atau tidak permintaanya itu sepenuhnya merupakan wewenang dari Tuhan. Seorang murid tidak boleh menuntut atau memaksa Tuhan, apalagi menyuap Tuhan dengan berbagai perbuatan-perbuatan baik hanya supaya doanya dikabulkan. Yang dimaksudkan dengan menyuap Tuhan itu misalnya seperti mengandalkan perbuatan-perbuatan baiknya; amal, bakti, puasanya, sebagai garansi dan modal untuk mendapat rahmat dari Tuhan. Seorang murid tidak bisa mengekang Tuhan dengan jalan pikirannya bahwa setiap perbuatan baiknya pasti akan mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan.

Kalau begitu apa yang menjadi andalan seorang murid bahwa permintaannya dapat dikabulkan oleh Tuhan? “jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."(Mat 7:11). Andalan seorang murid adalah kemurahan hati dari Tuhan. Tuhan yang maha murah dan maha mengetahui tentunya memahami dengan baik sekali kebutuhan dari setiap muridnya. Jadi Tuhan akan memberikan kepada setiap orang yang meminta kepadanya apa yang sesungguhnya sangat dibutuhkannya. Yang barangkali tidak persis seperti yang dimintakan sang murid. Tetapi sering kali malah jauh melebihi apa yang diminta oleh sang murid. Apakah saya sudah memiliki sikap sejati seorang murid?

Rabu, 16 Maret 2011

SIGNAL


Luk 11:29-32

Angkatan ini adalah angkatan yang mempersonifikasikan dengan sangat tegas adagium yang dilekatkan padanya; Homo est simbolicum animalae. Seluruh tampilan dirinya adalah pemaknaan berlapis dari beragam symbol yang dipakai dirinya dan komunitasnya. Rentetan symbol membentuk tanda atau sign (signal) yang memungkinkannya untuk berkomunikasi; mensyeringkan makna kepada sesamanya. Signal kemudian menjadi dewa baru yang diburu demi memuluskan hidup manusia dewasa ini.

Seluruh atmosfir kita pun, akhirnya disesaki oleh beragam signal, dari signal-signal super-elektromagnetik sampai signal gelombang radio frekuensi rendah. Signal adalah jawaban atas kebutuhan super-sibuk manusia akan informasi dan keinginan membangun relasi. Baik dari sekedar say hallo maupun sampai pada diskusi super- penting tentang dampak reaksi radiasi nuklir yang akan segera mengancam kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya. Ya, manusia memang tidak dapat terpisahkan sama sekali lagi dari yang namanya signal. Lihat saja, jika penunjuk signal di handphonenya hilang, ia dapat seketika pusing tujuh keliling. Semua terasa mandek, berhenti, mau mati rasanya. Segera ia akan berlari ke sana kemari untuk sekedar menemukan yang namanya signal. Sebab kalau signal sampai hilang bisa berakibat fatal. Seorang pengusaha yang sedang membuat deal-deal penting usaha dengan kleinnya melalui telephone genggam bisa gagal mencapai kata sepakat kalau tiba-tiba pembicaraan serius itu sampai putus. Seorang suami yang sedang kangen dengan istrinya, bisa uring-uringan kalau setiap kali HP istrinya dihubungi, jawaban yang didapatnya adalah nomor yang anda tujuh sedang berada di luar jangkauan. Ia mungkin bisa curiga apakah istrinya memang sedang berada di luar kota, tetapi bersama siapa? Padahal mungkin istrinya juga sendang kebingungan karena signal di area sekitar rumahnya still in trouble.

"Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.” (Luk 11: 29) Yesus tidak memberikan tanda kepada orang-orang yang datang kepadanya. Mereka menghendaki suatu tanda, karena memang mereka tidak akan percaya kepadaNya kalau belum melihat suatu tanda dariNya, tetapi Yesus tidak menunjukan suatu tanda apapun kepada mereka. Ketegasan Yesus ini hendak mengungkapkan suatu kebenaran ini, yaitu bahwa antara tanda dan orang yang diberi tanda mempunyai kaitan erat. Bila ingin memdapat tanda mereka harus menyiapkan diri terlebih dahulu supaya pantas dan mampu menerjemahkan makna tanda itu secara benar. Orang yang jahat, yang tidak memiliki ketulusan untuk menyembah Tuhan, tidak akan mampu memahami tanda apapun dari Allah.

Kita adalah angkatan yang tengah hidup di era hingar-bingarnya tanda atau signal. Tapi apakah kitapun mampu menangkap tanda-tanda atau signal-signal dari Allah? Untuk menangkap signal dari Allah tentunya dibutuhkan kesiapan hati, karena signal Allah hanya mampu ditangkap oleh orang yang mencari Dia dengan tulus hati.

Masa prapaskah yang sedang kita jalani sekarang ini merupakan moment yang pas untuk menyiapkan hati kita agar mampu menangkap signal dari Allah. Untuk itu kita harus bisa tenang. Harus bisa keluar dari hingar-bingar signal dunia ini untuk lebih focus memantapkan hati kita dalam manangkap signal dari Allah. Mari kita berusaha menyisihkan sedikit saja waktu untuk meninggalkan kesibukan-kesibukan duniawi kita, untuk sejenak mengasah nurani kita dengan aktivitas rohani yang dapat membuat kita lebih dekat dan peka terhadap signal lembut dari Allah. Apakah kita masih punya waktu untuk berdoa dan merenungkan sabda Tuhan setiap hari secara rutin?

Minggu, 06 Maret 2011

INDRA

Mrk 10:46-52

Indra memang sering kali menipu. Tapi tentang mata tak jarang orang membuat pengecualian. Karena memberi keindahan. Mata menangkap perpedaan cahaya. Mata membuat terpisah yang bersih dari yang kotor, yang putih dari yang hitam. Warna-warna terurai dalam mata. Keserasian bersatu kembali oleh mata. Mata menikmati keindahan yang alamiah maupun buatan manusia.

Karena mata adalah jendela jiwa. Darinya orang dapat menengok gejolak yang sedang bergumul dalam jiwa. Sorot mata memberikan kesan. Kesan yang bisa menembus sampai kerongga hati, di mana dusta tak menemukan tempat. Sorot mata memberitahu segalanya. Kelelahan oleh kerja keras. Kerinduan oleh cinta terpendam. Keterpukulan oleh kekalahan. Ketakjuban pada keajaiban. Keceriahan, nafsu, rayuan, nakal, bengong. Apa lagi?

Mata menyimpan seluruh rahasia yang meresahkan diri. Mata bisa juga menyembunyikan kenyataan tentang apa yang seharusnya diungkap. Namun mata juga memberi harapan. Memberi mimpi kala terpejam dan kecewa bila melek lagi. Memberi tidur yang lelap di tengah malam dan keenganan untuk bangun bila Wecker berdering. Mata menangkap cahaya fajar dan kerling gerimis. Mata memberi pelangi yang menguak teka-teki.

Tanya Yesus kepadanya: "Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang buta itu: "Rabuni, supaya aku dapat melihat!" (Mrk 10:51). Mata Bartimeus terbuka sudah. Jendela jiwa kehidupannya dibuka lebar-lebar kini. Lebih dari itu keteguhan imannya pada Yesus Anak Daud menemukan akhir yang bahagia. Sepintas tampak yang ia derita hanyalah kebutaan fisik semata, tapi di lubuk sanubarinya ia pun seorang anak manusia yang mendambakan perbuatan-perbuatan besar Allah. Ia tentunya sudah banyak mendengar tentang Putra Daud yang mulai popular waktu itu. Asanya menjadi lebih tajam. Ini saatnya ia membuktikan bahwa kemustahilan tidak berarti sekarang. Mujisat bisa terjadi atas dirinya. Ia pasti bisa melihat lagi.

Terkadang mata kita tertutup terhadap harapan kecil yang tumbuh dengan lebih mendalam di lubuk hati kita. Mata kita lebih muda terbuai dengan keindahan yang dipancarkan secara instans dan semu oleh kemilau dunia di depan kita. Karena itu mata Bartimues yang buta, mau menyadarkan kita bahwa yang lebih penting adalah harapan yang tersembunyi di lubuk hati dan keyakinan yang teguh pada kemahakuasaan Yesus Putra Daud. Marilah kita berdoa bersama Bartimeus agar Yesus Putra Daud dapat memelekkan mata nurani kita, agar kita pun dapat melihat dengan jelas harapan-harapan kecil kita dan harapan-harapan kecil orang lain di sekitar kita. Harapan akan suatu dunia yang lebih baik, aman dan damai.

Rabu, 02 Maret 2011

NUMERO UNO


Mrk10:32-45

Menjadi yang terbesar, menjadi yang terkemuka adalah dambaan setiap orang. Di mana-mana kita mendengar dan menyaksikan orang berlomba-lomba untuk mendapatkan posisi terdepan. Dalam setiap pertandingan apapun sudah pasti yang selalu dikejar adalah kemenangan, numero uno. Bahkan ketika kalahpun, orang selalu menghibur diri dengan ungkapan, “ini adalah kemenangan yang tertunda.” Dunia kita dewasa ini memang merupakan dunia yang diwarnai dengan persaingan, siapa yang menang dialah yang akan tetap hidup.

Pada kenyataannya, yang menjadi terbesar adalah selalu yang terbaik. Orang-orang besar adalah orang-orang yang dianggap mempunyai kompetensi terbaik dalam bidangnya. Orang-orang yang selalu keluar sebagai pemenang adalah orang-orang yang paling ulung. Tak jarang orang-orang yang memiliki predikat terbaik ini adalah orang-orang yang setia pada hal-hal kecil, orang-orang yang rajin dan tekun. Dalam dunia olahraga, orang-orang yang sering keluar sebagai pemenang sebuah pertandingan adalah orang-orang yang memiliki jadwal latihan yang ketat dan disiplin yang tinggi. Ini adalah suatu seleksi alamiah, bila ingin menjadi yang terbesar, harus menjadi yang terbaik.

Barang siapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barang siapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. (Mrk.10:43-44) secara sepintas mungkin kita melihat apa yang dikatan Yesus ini sungguh bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya. Mana mungkin kalau ingin jadi yang terbesar harus menjadi seorang pelayan, kacung atau babu? Apakah mungkin seorang hamba dpat menjadi seorang yang terkemuka, terhormat dan disegani semua orang? Kalau begitu, sekiranya apa sebenarnya yang ingin disampaikan Yesus dari sabdanya untuk kita hari ini? Saya melihat ada dua hal penting yang ingin ditekankan di sana.

Pertama, bila ingin menjadi yang terkemuka hendaklah manjadi yang terakhir. Yang terakhir dapat diartikan sebagai suatu kondisi persiapan untuk menjadi yang terdahulu, terkemuka. Bila ingin berada di puncak, orang harus memanjat anak tangga perlahan-lahan. Bila ingin menjadi yang terbaik, orang harus memulai dari latihan-latihan dasar, yang menjadi kekuatan untuk latihan-latihan berikutnya yang lebih berat. Bila ingin menjadi teladan, orang biasanya menghormati orang-orang kecil dan yang tak diperhatikan. Orang yang menata kariernya dari bawah akan lebih lama bertahan kekuasaannya ketimbang orang yang tiba-tiba saja berada di puncak, sebab ia tidak memiliki dasar yang kuat. Orang yang bekerja keras mencari uang akan lebih bersyukur dan bangga dengan hasil keringatnya ketimbang orang yang tiba-tiba menang undian/lotre.

Kedua, bila ingin menjadi yang terbesar, hndaklah menjadi pelayan bagi semua. Menjadi pelayan berarti menjadi seorang yang selalu memperhatikan kebutuhan orang lain. (lihatlah pelayan di pesta-pesta) Hal ini wajar, karena seorang yang terbesar adalah seorang yang memiliki tanggung jawab paling besar, seorang yang memiliki bidang pelayanan paling luas. Karena itu sering muncul istilah seorang besar itu sesungguhnya adalah seorang pelayan besar. Sebab, sesungguuhnya seorang menjadi besar karena ia di “besar”kan oleh orang lain. Para pejabat menjadi besar karena ada rakyat, orang kebanyakan, yang telah mengangkatnya. Karena itu ia harus menjadi pelayan bagi rakyatnya.

Menjadi besar sesungguhnya bukan sebuah fenomen yang negative. Orang memang harus membangun semangat kompetisi bila ingin maju. Persoalannya adalah bagaimana cara menjadi yang terbesar dan bagaimana bersikap setelah menjadi yang terbesar. Untuk menjadi yang terbesar orang harus terlebih dahulu menjadi yang terbaik, untuk itu orang harus belajar untuk tekun dan setia pada hal-hal kecil yang dapat menghantarnya untuk setia pada hal-hal besar. Dan setelah menjadi yang terbesar, orang tidak boleh takabur, ia tidak boleh lupa daratan. Ia harus bisa menjadi pelayanan bagi sesamanya.